Belakangan ini aku susah tidur. Kalopun bisa tidur, pasti diatas jam 12 malam selalu kebangun. Heran..
Akhirnya aku cari ke wikipedia. And this is what I found... --> Transient insomnia lasts from days to weeks. It can be caused by another disorder, by changes in the sleep environment, by the timing of sleep, or by stress. Its consequences - sleepiness and impaired psychomotor performance - are similar to those of sleep deprivation.[5] If this form of insomnia continues to occur from time to time, the insomnia is classified as intermittent.[citation needed] --> Middle-of-the-Night Insomnia - Insomnia characterized by difficulty returning to sleep after awakening in the middle of the night or waking too early in the morning. Also referred to as nocturnal awakenings. Encompasses middle and terminal insomnia. --> Middle insomnia - waking during the middle of the night, difficulty maintaining sleep. Often associated with pain syndromes or medical illness.
Tadi emang aku sempet ketiduran dari jam setengah 8 malem sampe jam 11an malem, terus kebangun. Kelanjutannya, nggak bisa tidur sampe sekarang. Ya udahlah...jangan tidur sekalian, daripada nanti malah ngantuk-ngantuk terus pusing. Gantinya jadi kerasa laper terus. Ini abis minum susu coklat dingin. Hahahah! Tau deh...
Jadi inget, hari Minggu pas di gereja...khotbahnya cukup mengena. Pendetanya sempat juga ngasih satu ilustrasi tentang orang yang pengen sukses. Ceritanya, ada satu pemuda yang pengen banget sukses. Tapi dia nggak tau caranya. Ternyata dia dapet masukan dari seorang kepala desa gitu sebelum pergi merantau. Kepala desa bilang, " Jangan takut!"
Akhirnya dengan berbekal kata-kata itu, orang ini pergi ke kota. Dia kerja keras banting tulang dan tanpa takut. Akhirnya, setelah 10 tahun berlalu, dia betul-betul berhasil. Terus orang ini memutuskan pulang lagi ke kampung halamannya.
Di tengah jalan, dia sempat berpikir. Selama 10 tahun itu, dia nggak sekali ngalamin yang namanya kegagalan. Sempat terbersit juga penyesalan, kalo misalnya dia nggak bikin keputusan ini dan kalo misalnya dia nggak ngelakuin keputusan itu. Dan nggak kerasa, sampailah dia di kampung halamannya. Ternyata...kepala desanya udah meninggal. Itu juga bikin dia menyesal. Kenapa dia nggak dateng lebih awal untuk bisa ketemu dan berterima kasih sama kepala desa.
Tapi ternyata...sebelum meninggal, kepala desa itu nitip satu pesan yang dia tulis di kertas buat orang itu. Ketika dia buka, tulisannya sederhana..."Jangan pernah menyesal!"
Nggak tau. Pas aku denger ilustrasi itu, tiba-tiba tersentak aja. Kena banget sih. Hahahah! Intinya, dalam apapun yang kita lakukan dan putuskan...jangan takut gagal dan jangan menyesali keputusan yang kita ambil. Dua hal itu menurut aku adalah pemacu biar kita nggak stuck dengan masa lalu, tapi terus maju ke depan.
Kangen ngopi. Caramel frappuccino-nya Starbucks yang ukuran Grande. Diminumnya sambil duduk-duduk aja di pinggir jalan atau trotoar. Yeah, u wish Hana...  Emang di Surabaya bisa gitu duduk-duduk di trotoar? Yang ada kayaknya dijambret orang yah? Jgegegegegege...
Kangen ah. Kangen minum kopi dingin di tengah cuaca panas sambil ngerasain angin dan ngeliat mobil lalu lalang. Ngeeeengng...ngeeeeengng...crut! 
Oke. Semalem udah aku lepas sendiri jahitannya. Alasan pertama, soalnya nggak sabar. Alasan kedua...karena takut kalo makan terus ada yang nyangkut dan benangnya ketarik, akan jadi lebih sakit. Jadi semalem, abis nulis postingan sebelumnya...aku keluar. Ambil gunting, balik ke kamar. Ngaca, pake jari ngebuka bibir biar ga terjadi luka gunting yang bisa bikin bibirku cacat. Yak! Percobaan pertama, gagal. Guntingnya kerasa gede banget dan meleset. Harus lebih hati-hati dan buka mata lebar-lebar. Percobaan kedua, KRES-KRES...dan terputuslah benang itu dari gusiku. Quick. No pain. No need to pay the doctor to cut the string off. Yay! And everyone's happy. 
Cerita ini adalah sambungan dari postinganku yang judulnya My Rotten Tooth. Jadi ceritanya di gusi yang bekas dicabut itu dijahit sama dokternya. Harusnya hari Selasa kemarin aku balik buat ngelepas jahitannya, tapi karena banyak hal...akhirnya nggak balik-balik sampe sekarang ini. And yes. I do mean this very moment when I'm typing this thing. Terus aku juga menghajar gigiku dengan makanan-makanan. Belajar ngunyah. Tapi beberapa menit yang lalu, aku makan brownies di sisi yang ada gusi dijahit itu. Tiba-tiba rasanya janggal gitu. Refleks aku arahkan lidahku kesana. Jreng! Beneran. Jahitannya lepas. Mau aku lepas manual dengan cara ditarik pake jari, nggak bisa. Secara ada satu yang disimpul mati gitu, jadi harus dipotong dokternya. Sumpah janggal. Rasanya kayak ada gumpalan rambut yang kemakan terus nyangkut di gigi tapi nggak bisa diambil. Kalo dipaksa bakal ngerobek gusi. 
Belakangan ini kayaknya aku udah jadi sosok yang egois dan nggak peka sama orang-orang di sekitarku yang sayang sama aku. Sadarnya juga barusan karena pihak yang bersangkutan ngomong ke aku.
Terus selama ini aku ngapain aja? Selama ini aku kemana aja? Segitu penting banget yah segala hal dalam hidupku sampe aku jadi jauh dengan orang-orang yang selalu ada saat aku butuh? 
Gebleg. Ternyata banyak PR di umur 21 ini. Crut!
Wah, akhirnya hari Minggu (04/05) kemarin aku resmi umur 21.  Artinya..udah bisa punya kartu kredit yang bukan kartu tambahan, bisa 'minum', bisa baca FHM (yang mana udah aku duluin dari beberapa tahun lalu), bisa bermacam-macamlah...
Umur 21 identik sama kedewasaan yah? Berarti semakin dewasa bukan semakin bebas. Oke lah mungkin bisa makin bebas berkeputusan. Tapi pastinya bebas bertanggung jawab kan? Dan belajar lebih dewasa. *sigh* Rasanya dari sebelum umur 20 juga aku terus berusaha menjadi dewasa, meskipun banyak orang bilang aku kekanakan. Well, what the fuck lah. Intinya seneng aja umurnya nambah. Heheheh...
Sekarang tugasku adalah belajar mencari jati diri dan arti hidup.  Happy birthday, Hana May!!! 
Jadi ceritanya hari Selasa kemarin aku operasi gigi. Cabut gigi yang udah busuk sampe kena syaraf. Walhasil tiap minum air dingin ato makan es, pasti sakitnya parah banget. Nah, kemarin Selasa aku seneng gitu ceritanya. Hehe...ke rumah sakit sendiri. Ngantri-ngantri sendiri. Terus masuk ruangan dokter sendiri. Berdebar-debar. Sumpah aku penasaran banget pengen tau gimana rasanya gusi disuntik. Agak kampungan emang. Dulu pengen tau rasanya suntik di tangan, kesampean. Sampe harus disuntik lima kali biar jarumnya masuk. Buset.
Oke. Balik ke cerita operasi gigi. Terus setelah semua progress selesai dilakukan, aku keluar dari ruangan, membawa gigi busukku itu buat jimat. Bayar di kasir, terus turun buat nebus obat di bagian farmasi. FYI, operasinya terbagi jadi tahap Suntik, Cabut-Dengan-Tang, Congkel-Congkel-Dulu, Cabut-Lagi-Dengan-Tang-Dan-Pastinya-Full-Power, Jahit, Aku-Disuruh-Gigit-Tampon-Gigi.
Lima menit pertama semua baik-baik aja. Sejam kemudian obat biusnya abis. Crut! Rasanya bukan sakit lagi, tapi udah pengen nonjok orang. Ya sutralah, akhirnya pulang...minum obat...terus mendinginkan dengan es krim dan es batu.
Pesan moral: Cabutlah gigi yang busuk, sebelum gigi busuk itu mencabut kesenanganmu dalam menikmati es krim dan segala minuman dingin. Satu pesan moral lagi: Carilah dokter yang gaul, biar bisa lebih rileks sebelum acara operasi gigi dimulai.
Sumpah aku sekarang lagi bingung. Orang bilang, dewasa itu ngalah. Orang bilang, dewasa itu nggak egois dan nggak mikirin perasaan diri sendiri. Tapi kenapa justru orang-orang yang (katanya) dewasa di sekitarku malah jadi yang teregois? Kenapa mereka malah ngotot sama apa yang mereka mau sendiri?
Berarti kalo aku memperjuangkan sesuatu yang menurut aku baik untuk diriku di masa depan, aku nggak dewasa dong? Berarti aku harus rela diinjak-injak dan nurut sama orang lain dong biar dapet predikat dewasa?
Kalo kayak gitu mah, mending aku nggak usah dapet predikat dewasa. Soalnya ada juga hal-hal yang aku pelajari tentang orang dewasa. Nggak sedikit dari mereka yang (merasa) udah dewasa itu justru munafik dalam hidupnya. Nggak sedikit dari mereka yang (merasa) udah dewasa itu justru jadi manipulatif dan nggak tulus.
Manusia nggak akan pernah dewasa, makanya proses belajar itu seumur hidup nggak akan pernah berhenti.
Oke. Sebetulnya ini adalah guyonan lama yang mungkin agak basi, tapi aku sadar...guyonan ini nggak akan muncul kalo nggak diilhami kisah nyata. Dan aku baru sadar lho. Emang bener ada persamaan antara atasan, dosen/guru, sama orang tua. Bukan harga mati (soalnya di tiap tempat bisa beda karakteristik), tapi mayoritas orang yang aku tau punya pengalaman dengan ini.
Jadi, ini dia persamaan mereka: 1. Mereka selalu benar. 2. Kalo mereka salah, harus liat nomer 1 doooooong!!!
Think about it, folks.
Kalo salah satu lagunya Badly Drawn Boy judulnya Silent Sigh, kali ini yang aku rasain bener-bener menghela nafas dalam diam. Sampe sesenggukan. Rada bego juga.
Nggak tau apa lagi yang harus aku lakuin. Nggak tau lagi apa yang harus aku buat. Kadang aku ngerasa udah cukup berusaha ngerti, udah berusaha mati-matian buat tau diri. Tapi seringnya jadi makan ati sendiri. Gila. Terus sekarang mau ngapain dong? Mau gerak kemana aja, mau ngelakuin apa aja, semua salah.
thisFUCKINGfeelingISbringingMEsorrow.
I...wanna write something down here. I'm...supposed to be writing something down here. I'm...actually gonna write something down here.
The problem is...I SUDDENLY LOST THOUGHTS. SH*T!!!
Aku baru aja nge-refresh halaman inboxku. Ada satu iklan yang muncul di atas dong. Pertamanya emang nggak terlalu aku perhatiin. Tapi karena kedap-kedip kesana-kemari, jadilah aku lirik tulisannya. TUKAR INFO BISPAK!!! Dengan link-nya. Terus ada tulisan kecil di pinggir bawah: Ads by Google. Pliiiiiiiiiiis deeeeeeeehhhh....
Aku nggak tau menurut kalian iklan seperti itu termasuk porno apa enggak, tapi kalo aku sih menganggapnya udah iya. Giling! Jualan aja gitu via MULTIPLY?!
Ini sambungan postinganku yang (mungkin) akan menuai kontroversi lagi. Hahahahahahah! Kenapa demikian? Karena aku aku akan menguak sebuah fakta...dimana banyaaaaaaaaaaak banget orang yang bilang mukaku mirip sama Velove Vexia. *nggak boleh protes, sirik tanda tak mirip* FYI, dia main di sinetron Olivia itu...yang isunya pacaran sama Raffi Ahmad. Beh...  Jadi, lanjut. Ada banyak kejadian, di banyak tempat, dengan banyak orang, dimana aku dibilang mirip sama Velove. Beberapa kejadian itu adalah: 1. Di kampus, anak-anak pada bilang mukaku mirip Velove. 2. Duluuuu banget, pas lagi nungguin giliran make up buat fashion show. Tau-tau ada make up artist yang bilang, "Mbaknya mirip Olivia, yah." 3. Drive-thru McDonalds!!! Hakhakhakhakhak! Ketemu sama penjaga drive-thru nya juga baru sekali itu! 4. Di pintu tol Darmo, abis pulang kerja. 5. Pas nginep di rumah temenku di Jakarta. Yang ngomong malah keluarganya temenku itu, yang notabene aku juga baru sekali itu ketemunya. Waktu diomongin pertama kali sih, reaksiku adalah "nggak kaleeeeeeee..." Tapi lama-lama ya sudahlah. Malas membantah. Padahal tuaan aku lho. *setengah nelangsa* Jadi...harusnya si Velove itu yang mirip aku, bukan aku yang dimirip-miripin sama dia. Ayo..ayo..reaksi keras datanglah..hakhakhakhakhakhak! Postingan nggak penting, ah...
Ngomongin soal opname di rumah sakit, ada satu cerita lagi yang bikin aku pengen ketawa dan pengen terharu. Jadi ceritanya aku lagi cenggur di rumah sakit, terus udah waktunya seka (mandi yang nggak mandi). Ada satu suster yang dateng buat aktivitas seka. Namanya Suster Itje. *nggak tau bener apa nggak nulis namanya* Terus ada aku dan mamaku. Terjadilah percakapan... Suster: Mbaknya kok familiar yah mukanya? Aku: Jangan bilang mirip Olivia. (FYI, folks..Olivia itu adalah Velove Vexia, yang kata orang sejuta umat itu mukanya mirip sama aku. nanti ta buatin postingan sendiri buat ini.) Suster: Bukan. Mm...mbaknya kok mirip sama presenternya SBO itu yah? Aku: Lha...emang saya, mbak. *dengan backsound 'dong-deng-dong-deng' ala film silat HongKong* Moral of the story: TERNYATA ADA YANG MENGENALI MUKAKU JUGA!!! 
Jadi, malam ini akan menjadi malam terakhirku di rumah sakit. Setelah tiba-tiba tanggal 28 Februari kemarin kondisi tubuhku ngedrop dan harus opname di rumah sakit...karena penyakit yang nggak jelas. Tempo-tempo mengarah ke demam berdarah, tempo-tempo mengarah ke tipus. Penyakit yang nggak jelas, yang berujung pada satu kesimpulan akhir...aku kecapekan. Satu kejadian lucu soal opname ini adalah...pembuluh darahku tipis dan gampang pecah. Jadi cuma buat masukin selang infus aja harus sampai 5 kali usaha baru berhasil. Untungnya dari awal aku emang udah punya niatan untuk 'menikmati' rasa sakit jarum infus, dan Tuhan menjawab keinginanku dengan 5 kali coblosan. Buset dah! Udah gitu susternya galak abis. Ada fotonya sih, cuma nggak sempat aku masukin. Kapan-kapan yah. Yang pasti tanganku jadi memar-memar gitu. Moga-moga pas siaran TV bisa keliatan. *kok malah ngarep?* Hakhakhakhak! Silly. Sedihnya adalah...aku harus mengorbankan pekerjaan-pekerjaan yang aku cintai. Siaran-siaran, semuanya dibatalkan. Which means, bye-bye salary. *grins* Tapi emang yang namanya istirahat itu kadang mahal banget harganya. Baru nyadar aja gitu. Udah gaji ilang, malah harus bayar pula. Untunglah aku masih numpang sama orang tua, jadi yang bayarin biaya rumah sakit...ya orang tua.  Hukhukhuk...artinya suatu hari nanti aku juga harus membiayai biaya pengobatan anak-anakku. Untung besok aku sudah keluar dari sini (baca: rumah sakit, bukan restoran all you can eat). Heheheheh... hal pertama yang aku ingin lakukan begitu keluar dari sini adalah...kerja. Siaran, siaran, dan siaran. Tapi bukan ding. Sebelumnya harus perawatan dulu. Secara rambutku udah kayak bihun yang lengket kesana kemari. 4 hari nggak keramas. *yuck!* Ya sutralah...sekian update singkat dariku. Ow, dan sekarang aku lagi ngebut bikin proposal kolokium yang harus dikumpulin besok...dan masih kebingungan soal teorinya. Secara banyak buku yang ketinggalan di rumah. Hakhakhakhakhak! *tawa desperate* By the way, staying at a hospital is not bad at all. I think it's even better than staying at a hotel. Gimana enggak, kalo di hotel kan semua harus ngelakuin sendiri. Kalo di rumah sakit, semuanya dibantuin.  Yah, paling yang nggak enak itu cuma makanannya, injeksi-injeksinya yang bikin mual, dan tetangga sekamar yang pembesuknya lebih rame dibandingin pasar.
Jadi ceritanya kemarin aku nggak sengaja liat di TV ada video klipnya Maia (and friends) yang Ingat Kamu. Maaf, tapi aku langsung sebut merk aja biar afdol. Heheheheh...coba deh diliat video klipnya kalo sempet.
Ada satu kekontrasan yang aku temukan setelah nonton video klip itu. Lagunya dong, bikin aku mikir, "PLIIIIIIIIIISSSS DEEEEHHHH!!!!" Tapi videonya asli...keren. Sinematografinya oke banget, dan Nicholas Saputra-nya...yummy abis! Hakhakhakhakhak! Sampe bikin aku semi melongo waktu ngeliat videonya gitu.
Tapi sumpah kontras banget antara lagu dan video. Atau emang itu strategi mereka aja yah biar laris?
Ow, one more thing. Mei Chan rada kasian, menurut aku. Secara suara, ga semantap Pingkan Mambo. Secara tampang, jauh banget dibandingin Mulan Kwok.
Udah ah. Nanti aku kena azab tukang kritik lagi. Yuk mareeeeeeeee...
Sering aku baca di majalah atau di koran atau di internet, tentang tokoh-tokoh terkenal yang kalo ditanya tentang hidupnya...mereka akan bilang, "Just let it flow." Tapi dalam kehidupan nyata, banyak sekali orang-orang terdekatku yang menetapkan target-target tertentu. Ada yang bilang, "Target membuat kita berusaha." Jadi sebetulnya dalam hidup, apakah kita harus membiarkannya mengalir...atau justru menciptakan target untuk mencapai hidup yang lebih baik lagi? Mungkin kalo kita beruntung, tanpa harus menciptakan target, hal-hal baik akan datang menghampiri. Tapi kalo kita lagi apes, meskipun udah bikin target...tetep aja nggak kesampaian. Heheheh...paling enak kalo udah bikin target dan kita beruntung pula. Jadi pasti selalu tercapai. Emang ada? Nggak tau juga sih. Kalo buat aku secara pribadi, aku mencampurkan keduanya. Buat hal-hal tertentu, aku biarin mengalir. Tapi buat hal-hal tertentu juga, aku menciptakan target. I mean...somehow life is unpredictable. Meaning? I don't even know. Hahahahahah! Kayaknya kalimat terakhirnya harus keminggris biar jadi gong. Silly.
 | Kolokium | Feb 22, '08 1:01 AM for everyone |
Jadi teman-teman, kalo bingung sama istilah kolokium...biar aku perjelas.
KOLOKIUM equals PENGAJUAN PROPOSAL SKRIPSI.
Singkatnya, kalo aku mau skripsi...harus lulus kolokium dulu. Duh, UKP ini yah (baca: Universitas Kayak Plaza) kebanyakan syarat. Kakean model. Kakean syarat. Kakean ujian. Huhuhuhuhu...
Sekarang ini aku lagi ikut kelas kolokium gelombang pertama. Yah...sekilas modelnya kayak kuliah biasa, tapi ini lebih mirip coaching gitu. Bimbingan sederhana buat mahasiswa.
Nanti sebelum UTS harus udah selesai proposalnya, soalnya ujiannya sih pas UTS. Huhuhu...aku harus lulus gelombang pertama. Jangan sampai ikut gelombang kedua. Amit-amit jabang bayi.
Doakan aku teman-teman!!! *Takeshi Castle banget ah...*
Jadi sebetulnya aku cuma mau sharing aja. Cuma mau menyebarkan sebuah gumamam pikiran yang udah mengendap beberapa waktu. Byuh..byuh..kesannya gimana banget gitu yak. Heheheheh...tapi apakah gumamam pikiranku itu? *eng ing eng* Perhatian dari orang tercinta, sekecil apapun itu, amat sangat menyejukkan. Udah sih itu aja. Mungkin buat sebagian orang, kelihatannya nggak penting. Tapi buat aku, terutama belakangan ini...penting bener. Nggak percaya? Mari kita pikirkan bersama. Buat yang ngerasa lagi punya pasangan, atau paling nggak pernah punya pasangan lah. Heheheh...coba diinget waktu hari-hari lagi sumpek-sumpeknya. Waktu lagi dikejar deadline atau pas lagi rush hour, atau keadaan apapun yang bikin perasaan jadi so-under-fucking-pressure, terus tau-tau ada SMS masuk. Dibuka. Pendek sih. Tapi dari pasangan. Misalnya... Sayang, semangat yah! xoxo atau Wish u all the best for today, honey. atau Keep on smiling. Today will be bright. :* Love u, sweetheart! Mungkin nggak hanya berupa SMS, tapi juga percakapan singkat di sela-sela kesibukan. A: "Sayang, lagi ngapain?" B: "Lagi di kantor." A: "Ribet yah?" B: "Lumayan. Kamu dimana?" A: "Aku juga lagi kerja, tapi lagi istirahat makan siang. Ya udah, met kerja yah. Jangan lupa makan." B: "Iya, makasih sayang." A: "Love u." B: "Love u too." See. How love works in everyday life. Duh...aku jadi senyum-senyum sendiri. Love is sweet, though it might still taste sour sometimes. Tapi kalo masih bingung juga...mungkin bisa ditarik satu benang merah. Buat yang udah punya pasangan, jagalah komunikasi dengan pasangan baik-baik dan jangan jenuh-jenuh untuk secara timbal balik saling memberikan perhatian. Jangan egois dan berharap perhatian akan selalu datang dari pasangan secara sepihak. Buat yang belum punya pasangan, cari lagi dong ah! Biar bisa memberi perhatian buat pasangannya. Hakhakhakhakhak!
| |